BEST E-Book "↠ Lampuki" || UNLIMITED (AZW) ↠

Lampuki By Arafat Nur,

  • Title: Lampuki
  • Author: Arafat Nur
  • ISBN: 9789790243545
  • Page: 443
  • Format: Paperback
  • Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 Inilah novel menyentuh dan mencerahkan berlatar Aceh pada masa penuh gejolak setelah kejatuhan Soeharto Lampuki adalah sebuah satir cerdas tentang gebalau konflik antara tentara pemerintah dan kaum gerilyawan yang pada ujungnya menyengsarakan orang orang kecil tak berdosa.Di pusat cerita adalah seorang lelaki kampungan b Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 Inilah novel menyentuh dan mencerahkan berlatar Aceh pada masa penuh gejolak setelah kejatuhan Soeharto Lampuki adalah sebuah satir cerdas tentang gebalau konflik antara tentara pemerintah dan kaum gerilyawan yang pada ujungnya menyengsarakan orang orang kecil tak berdosa.Di pusat cerita adalah seorang lelaki kampungan berkumis tebal bernama Ahmadi Dialah mantan berandal yang kemudian tampil menjadi pemimpin laskar gerilyawan yang berlindung di desa Lampuki Si kumis yang banyak lagak ini menghasut para penduduk untuk mengangkat senjata melawan tentara yang datang dari pulau seberang Namun, walau dia selalu lolos dari kejaran orang orang berseragam, para penduduk desalah yang kena batunya Orang orang tak berdaya itu kerap menjadi sasaran kemarahan tentara.Kisah kian menarik dengan bumbu cinta terlarang antara Halimah, istri Ahmadi yang bertugas mengutip pajak perjuangan ke rumah rumah penduduk, dan Jibral si Rupawan, pemuda tanggung penakut yang menjadi pujaan hati gadis gadis sekampung.Novel ini ditulis penuh perasaan dan dengan rasa humor yang cerdas Tak tampak penggambaran hitam putih sehingga pesan melesap ke dalam cerita dengan bahasa yang lincah walaupun kental terasa pemihakan terhadap si lemah.Komentar Pembaca Strategi pengarang untuk mengambil jarak emosional dengan masalah politik dan sosial penting yang diungkapkannya berhasil menyadarkan kita bahwa protes atau komentar sosial dan politik tidak harus disampaikan dengan bahasa kepalan tangan Pengarang telah memanfaatkan penghayatan dan pengetahuannya tentang masalah itu untuk menyusun sebuah kisah yang mampu menumbuhkan simpati terhadap tokoh tokoh yang terlibat di dalamnya Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan guru besar sastra UI, juri Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 Di dalam Lampuki, Arafat bergerak, membawa kita pada sehimpun kisah yang mengejutkan, penuh satir, dan hanya mungkin lahir oleh kekacauan politik Dia telah mengganggu apa yang paling tidak diinginkan otoritas moral di mana pun khayalan untuk melindungi sifat buruk manusia Azhari Aiyub, penulis Aceh, penerima anugerah internasional Free Word Award 2005 Lampuki adalah novel satir yang cerdas, membincangkan luka negeri sambil tertawa Ia membikin kita penasaran sampai khatam Abidah el Khalieqy, novelis, penulis cerita film Perempuan Berkalung Sorban, tinggal di Yogyakarta Sebuah novel yang menarik, pedih, dan berani mengungkit Aceh sebagai luka yang belum sepenuhnya selesai Helvy Tiana Rosa, sastrawan, motivator menulis, dan dosen Universitas Negeri Jakarta Lagi lagi Aceh membikin kejutan Sebelumnya soal perang, lalu tsunami, dan kali ini Lampuki Kisahnya amat menyentak dan sangat berani Gol A Gong, penulis, Ketua Forum Taman Baca Masyarakat Indonesia, dan pendiri komunitas Rumah Dunia, Serang Arafat Nur sangat cerdas merebut realitas sosial yang beranak duri dalam daging dari peristiwa Aceh Dia intip, dengar, lihat, dan rasakan kecamuk berpuluh tahun yang mengeram di bumi Aceh, diolah melalui kemampuan berpikir, melahirkan pengalaman jiwa, maka jadilah realitas sastra bernama Lampuki Novel ini mengungkit kegetiran kondisi sosial Aceh dengan cara bergelak tawa yang sesungguhnya pahit mengiris jiwa Memang, sesungguhnya kekuasaan sangat dekat dengan kejahatan Lampuki sangat luar biasa Bravo, Arafat Sulaiman Juned, penyair, kolumnis, dramawan, sutradara teater, pendiri Komunitas Seni Kuflet, dan dosen teater Institut Seni Indonesia Padangpanjang Meskipun Arafat menceritakan tokoh tokoh pesong dari kampung Lampuki, sesungguhnya dia sedang membahasakan perangai anak manusia yang bisa kita temukan di belahan bumi mana pun dan pada zaman kapan pun Dalam Lampuki kita menemukan kisah universal yang ditulis begitu sederhana, lugas, dan mudah dipahami setiap orang Penulisnya saya yakin suatu hari nanti akan mendunia D Kemalawati, sastrawan dan guru, tinggal di Banda Aceh Sejarah lebih sering mencatat hal hal besar, sastrawan perlu mengambil peran mencatat hal hal yang tidak ditangkap oleh mata formal sejarah Arafat telah berusaha mencatat fragmen fragmen kecil dari sebuah ritus sejarah di Aceh Dianing Widya Yudhistira, novelis, tinggal di Jakarta Saya yakin Lampuki menjadi novel paling menonjol tahun ini dan bakal bertahan lama sebab ceritanya mirip gaya penulis dunia Benar benar novel yang cerdas, sanggup memukau dari awal sampai akhir Fikar W Eda, penyair dan wartawan, tinggal di Jakarta Lampuki memiliki keteraturan diksi dan kehati hatian pemilihan kalimat Ada kesadaran pascakolonial dalam bernarasi yang tidak tunduk pada bahasa pop pasaran Ceritanya kadangkala kelu dan muram, tetapi memang begitulah warna dalam kehidupan nyata Teuku Kemal Fasya, esais, dosen antropologi Universitas Malikussaleh, Banda Aceh Lampuki disajikan dengan cara berbeda dari kebanyakan karya sastra di Indonesia Penceritaannya sangat kuat dengan bahasa yang membumi Arafat piawai mengambil jarak dengan semua tokoh dan peristiwa, tetapi kisahnya sangat dekat dengan kita semua Ayi Jufridar, jurnalis dan novelis
    Lampuki Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel DKJ Inilah novel menyentuh dan mencerahkan berlatar Aceh pada masa penuh gejolak setelah kejatuhan Soeharto Lampuki adalah sebuah satir cerdas tentang ge

    One thought on “Lampuki”

    1. Buku yg cukup lama untuk diselesaikan Meski di awal alurnya mencla mencle dan lu am bu at, tapi buat gw, kehidupan masyarakat Lampuki ini menarik, terlepas dari kepesongan penduduknya Salut, bahwa setelah mendapatkan perlakuan begitu buruk dari pemberontak dan tentara pemerintah, mereka masih bisa tertawa dan saling mengejek.Sindiran tentang pemerintah, tentara pemerintah, pembangunan, bangsa lamit dan bangsa kafir bolak balik diulas di sini Satirisme yg dibangun di sini malah terkesan sebagai s [...]

    2. Pantas ya, jadi juara DKJ Baca novel ini saya jadi banyak banyak banyak belajar Tentang nasionalisme, pemberontakan, rakyat jelata, dan banyak sekali Terutama tentang Aceh juga, ya D Lampuki, cerita yang mengangkat kehidupan rakyat jelata di tengah tengah keadaan kritis semacam perang perang gitu KEREN

    3. CATATAN MEMBACA SAYA TENTANG LAMPUKISaya tak ingin menyebut catatan ini sebuah resensi ini adalah catatan membaca Catatan membaca saya tentang Lampuki.Sejak pengumuman Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 diumumkan oleh dewan juri, saya tak sabar menunggu karya karya mereka diterbitkan dan bisa saya baca Salah satunya yang saya hunting adalah Jatisaba karya Ramayda Akmal Tapi sayang, saya tinggal di kota kecil sehingga novel tersebut tak kunjung bisa saya dapatkan novel novel berb [...]

    4. Dulu, ketika setelah liburan panjang, biasanya pada bulan Ramadhan, ibu guru akan memberi tugas klasik kepada anak muridnya untuk menceritakan pengalaman semasa liburan Ayo sekarang kalian tulis mengenai apa saja yang kalian lakukan selama liburan Buku ini mengingatkan saya akan hal itu Buku ini menggambarkan kampung Lampuki yang sedang berada pada masa peperangan Aceh di zaman Orde Baru Dari sudut pandang seorang Teungku Muhammad, guru pengajian di Lampuki, saya diajak untuk menyusuri kehidupan [...]

    5. Did not finish.Tertarik karena buku ini berbau Aceh, kota kelahiran aku Kurang suka sama gaya penulisannya Kenapa soal kumis si tokoh utama harus ditulis berulang ulang Bikin eneg pembaca Yes, he had this eccentric mustache, I get it No need to repeat that 50 times in 10 pages.Kenapa minim sekali dialog shaking my head This book requires a Saint s patience, a thing that I will never have Sayang sekali, padahal temanya bagus.

    6. Lampuki adalah cerita yang mengalir pelan dan bersahaja Tidak ada narasi yang menggebu gebu atau suasana yang riuh Meskipun menggambarkan situasi konflik yang mencekam, penulis bertutur dengan sederhana Kesederhanaan yang menyimpan kegetiran dan juga humor humor kering yang menggelitik.

    7. Judul 4 5Sampul 5 5Pembuka 4 5Cerita 4 5Penceritaan 3 5Bahasa 4 5Penutup 3 5Layout 3 5Blurb 4 5TOTAL 4 5REKOMENDASI 4 5

    8. Actually 3.5Membutuhkan waktu enam hari untuk menyelesaikan baca buku ini, selain karena memang tebal, gaya bahasanya tak mengizinkan saya untuk membaca cepat cepat Sungguh, gaya bahasa Arafat di sini demikian liris, detail dalam menarasikan sesuatu hal Gaya bahasa seperti ini bagai lidah ular yang bercabang dua Di satu sisi, kedetailan dan gaya bahasa yang sedikit dipengaruhi oleh lokalitas Aceh itu bikin sesak napas Seharusnya, sesuatu hal bisa diceritakan secara ringkas saja, tapi si Aku dala [...]

    9. Mungkin Lampuki adalah salah satu novel terlama yang saya baca, bukan karena tebalnya, tapi karena memang alur yang berputar putar di dalamnya Jika bukan karena rasa penasaran untuk membaca bagaimana seorang Arafat Nur menuntaskan novel ini terutama karena novel ini adalah pemenang sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 saya mungkin tidak selesai selesai membacanya Novel ini, untuk saya, memang punya kelebihan dan kekurangan Kelebihannya antara lain, mampu memberikan gambaran pember [...]

    10. kisah satir ttg sebuah kampung terpencil di aceh setengah homoris setengah membuat mirisskipun tokoh utama novel ini mungkin si kumis, tp penceritaannya dikisahkan dari mata seorang guru mengaji di situ sudut pandang yg lebih imbang melihat antara yang datang dan didatangi yang ditakuti dan yang tertakutkan dan orang orang yang terjepit di antaranya sayangnya novel ini mengalir lempeeeng saja tanpa awal, klimaks dan akhir tiap babnya menceritakan satu cerita utuh ttg suatu hal di kqmpung situ la [...]

    11. Cerita dari aceh, ya dengan ini saya percaya bahwa orang dari aceh emang jago bercerita, salah satunya karya ini, saya berasa didongengin soal perang.Kosakata yang digunakan juga aceh banget, macam pesong, jiran, yang kerap bisa kita jumpai.Cerita soal perang yang mengambil sudut pandang dari seorang teungku ustad soal polemik yang terjadi di daerahnya ketika perang berkecamuk Mengungkapkan ada kalanya baik maupun buruk mengambil alih sifat dari kedua kubu, pemberontak dan juga prajurit negara.C [...]

    12. Sejauh ini, Lampuki adalah novel yang paling mampu menggambarkan perubahan kondisi masyarakat saat konflik di Aceh pada masa konflik pasca 1998 Penggambaran perubahan kondisi tentara dari yang awalnya tidak terlalu keras apalagi jika dibandingkan dengan perilaku mereka pada masa DOM hingga akhirnya mengganas juga cukup menarik Novel ini terasa kaku dan lambat dalam bertutur sehingga membutuhkan kesabaran untuk menamatkannya Untuk peminat kajian tentang konflik di Aceh, membaca buku ini akan memb [...]

    13. Ketika dibandingkan dengan novel terbarunya Burung Terbang Di Kelam Malam novel ini lebih liris dengan narasi yang panjang panjang Di novel yang anyar, Arafat Nur terasa lebih menggerakan tokoh dalam tempo yang cepat Sedang di lampuki semua bergerak perlahan dengan paduan kata yang liris.Usai membaca novel ini, kesan terhadap acehku justru semakin kuat yaiut, ganja, keras, dan GAM Tetapi novel ini sangat kentara satirenya Dan nada humor Arafat Nur aku suka Apalagi saat menceritakan kekonyolan to [...]

    14. Lampuki, saya seperti menonton film terbaik Academy Award pada tahun 2012 Argo Keduanya dapat menunjukkan konflik yang sangat kental, namun tidak sekalipun menyentuh masalah politik, agama, serta budaya Arafat Nur benar benar menunjukkan identitasnya sebagai penulis ketimbang politikus Ia dapat membawakan dunia yang penuh ancaman tanpa sedikitpun mengancam dunia lain selain sastra Arafat Nur merupakan sastrawan kelas atas.

    15. di luar dari cara berceritanya yang merupakan narasi dan sangat minim dialog, Lampuki ini merupakan salah satu novel cerdas yang menyentil segala yang berhubungan dengan Aceh Di saat kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana atau hanya mendengar dan melihat melalui media Lampuki sedikit banyak memberi gambaran seluk beluk permasalahan di tanah Aceh sana, sehingga membuka mata pembacanya untuk lebih aware dengan permasalahan di tanah Aceh tersebut.

    16. Patriotisme Ahmadi dalam membela tanah kelahirannya tidak sebanding dengan kecelakaan demi kecelakaan yang ditimbulkan, ini adalah konflik utama dalam novel Lampuki Pembaca seperti diperlihatkan pada polemik yang pernah terjadi si tanah Aceh Bahasa melayu yang kental dan kekolotan masyarakat desa yang di gambarkan Arafat Nur berhasil membawa pembaca seperti bernostalgia pada karya sastra melayu angkatan lama.

    17. Mau kasihan, mau sebal, mau ketawa, mau getok baca cerita tentang orang2 di kampung Lampuki ini.Tapi saya sempat dua malam di Lhok Sukon, jd segala perasaan campur aduk di atas itu memang bikin penasaran atas datangnya harapan yg entah kapan Ya Allah, berilah damai bagi penduduk dan tanah Aceh

    18. uh, tidak selesai membaca buku ini entah kenapa, saya melihat bagian depan terlalu banyak alur yang menjalar alhasil, per chapter tidak semua membawa saya membalik ke chapter berikutnya.

    19. Sebagai orang Jawa, saya sedikit kesulitan memahami Lampuki banyak kosa kata atau istilah yang kurang bisa saya tangkap Arafat Nor memang kejam Lebih kejam dari Ahmadi tokoh dalam novel Semua pihak kena makiannya Ia pandai memainkan bahasa yang renyah.

    20. Lampuki, cerita kepedihan rakyat jelata ditengah gejolak perang antara pemberontak dengan tentara pemerintah Diceritakan secara jenaka, namun kepedihan tetap terasa Kumis,pesong, tahi adalah kata kata yang paling sering muncul.Lampuki memang layak memperoleh KlA 2011rats

    21. Gak ada lawan deh novel ginian Sadis abis Satirnya itu kelas tinggi Orang cerdas saja yang mampu menikmatinya Yg gak cerdas cuma bisa cengar cengir Kwkwkw

    22. Novel menarik tentang pergolakan di Aceh Kejadian kejadian yang hampir merupakan kisah nyata di lapangan saat itu Sangat menarik untuk dibaca.

    23. Dari judulnya saja sudah wow sekali, setelah membacanya saya jadi kecewa dgn pengharapan yg terlalu berlebihan mengenai tanah kelahirannya sendiri.

    24. 95% tulisan di buku ini berupa narasi, yang mana bagiku sedikit menjemukan Timbang Lampuki, aku lebih menikmati Tanah Surga Merah.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *